Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

‎Dari Papua, Harmoni Tanpa Sekat‎

Kamis, 19 Maret 2026 | Maret 19, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-19T09:19:57Z
Jefri Nendisa salah satu pelaku seni di Tanah Papua. (Foro Arsip Jefri)

‎PAPUA - Diujung timur Cenderawasih, Papua, toleransi bukan sekadar wacana, ia hidup, berdenyut, dan terasa dalam keseharian masyarakatnya. Di tengah perbedaan keyakinan yang ada, seni hadir sebagai ruang temu yang hangat, tanpa sekat, tanpa prasangka. 
‎Bagi Jefri Nendisa, seorang pelaku seni Papua, toleransi bukan hanya diajarkan, tetapi dialami langsung melalui karya dan panggung yang menyatukan.
‎“Seni itu bahasa universal,” tutur Jefri sembari tersenyum, Kamis (19/03/2026).
‎Baginya, seni memiliki kekuatan menyentuh emosi manusia tanpa harus melewati perdebatan panjang soal doktrin atau keyakinan. Lewat musik, tari, dan teater, orang tidak lagi melihat perbedaan agama sebagai batas, melainkan sebagai warna yang memperkaya kehidupan bersama.
‎"Di sanalah toleransi tumbuh secara alami melalui rasa, bukan sekadar kata," ujarnya.
‎Jefri menjelaskan, pentas seni lintas agama menjadi salah satu wujud nyata bagaimana harmoni itu terbangun. Pemuda dari berbagai latar belakang—Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Konghucu, hingga aliran kepercayaan—berdiri di satu panggung yang sama. Mereka tidak datang membawa identitas untuk dipertentangkan, tetapi untuk dirayakan bersama dalam satu karya. Tidak ada batasan, tidak ada sekat—yang ada hanya kebersamaan.
‎Fenomena ini bahkan melampaui panggung hiburan. Di Papua, para seniman lintas agama kerap terlibat dalam kegiatan keagamaan satu sama lain. Seorang seniman Muslim bisa dengan tulus mengiringi perayaan Natal, sementara seniman dari keyakinan lain turut ambil bagian dalam kegiatan keagamaan umat Islam. 
‎" Saya lihat inilah wajah toleransi sejati ketika perbedaan tidak hanya dihargai, tetapi juga dirangkul dalam tindakan nyata," ungkap Jefri.
‎Di tengah dunia yang kerap diramaikan oleh konflik identitas, Papua justru menawarkan pelajaran berharga, bahwa perdamaian bisa dibangun dari hal-hal sederhana, seperti musik, gerak tari, dan cerita yang dibagikan bersama. 
‎“Semoga Papua bisa menjadi inspirasi,” harap Jefri, 
‎Jefri, penuh harap. Sebab dari timur Indonesia, pesan sederhana itu terus bergema: damai bisa lahir dari keindahan, dan seni adalah jalannya.
‎“bahwa toleransi agama bisa dijaga dalam keindahan, dan dari sini, pesan damai itu bisa sampai ke seluruh dunia,” tutupnya.
‎Jefri Nendisa berharap semangat toleransi yang tumbuh di Tanah Papua tidak hanya bertahan, tetapi juga menyebar lebih luas ke seluruh penjuru negeri. (ITH)
×
Berita Terbaru Update