Pangdam V/Brawijaya, Mayjen TNI Rudy Saladin (kiri tujuh) didampingi Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Daerah V/Brawijaya, Ibu Vira Rudy Saladin (kiri delapan) berpose bersama, Malang, Jawa Timur (02/05/2026).
SURABAYA — Di balik kesibukan mendampingi tugas prajurit, para anggota Persit Kartika Chandra Kirana PD V/Brawijaya kini menapaki peran baru yang tak kalah penting: menggerakkan roda ekonomi keluarga lewat usaha mandiri.
Komitmen itu mendapat dorongan langsung dari Pangdam V/Brawijaya, Mayjen TNI Rudy Saladin. Ia melihat, kekuatan ekonomi tidak selalu lahir dari sektor besar, tetapi justru tumbuh dari tangan-tangan kreatif di rumah.
“Persit bukan hanya pendamping, tetapi juga penggerak ekonomi keluarga yang harus adaptif dengan perkembangan zaman,” kata Pangdam dalam peringatan HUT Persit ke-80 tahun 2026, Sabtu (02/05/2026).
Semangat tersebut terasa nyata dalam berbagai kegiatan. Di sela bazar dan pameran, tampak produk-produk buatan anggota Pbesar mulai dari kerajinan tangan hingga olahan kuliner ditata rapi, mencerminkan ketekunan dan harapan. Bagi sebagian anggota, usaha ini bukan sekadar tambahan penghasilan, tetapi juga ruang untuk berkembang dan berdaya.
Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Daerah V/Brawijaya, Ibu Vira Rudy Saladin, menyebut kemandirian ekonomi sebagai bentuk pengabdian yang sederhana namun berdampak luas.
“Persit adalah tiang keluarga. Ketika perempuan berdaya, keluarga ikut kuat, dan itu memberi manfaat bagi lingkungan sekitar,” tuturnya.
Dukungan dari Kodam V/Brawijaya pun tidak setengah hati. Pelatihan pemasaran digital mulai diperkenalkan agar produk bisa menjangkau pasar yang lebih luas. Di sisi lain, momen seperti bazar dan event besar dimanfaatkan sebagai etalase karya anggota.
Tak berhenti di tingkat lokal, langkah para anggota Persit kini menembus panggung nasional. Sejumlah UMKM binaan seperti Mithlabs, Yankurin, SKM dan Craft, Henny Daster Bordir Malang, dan Oktaviana Tas Grosir dipersiapkan tampil dalam ajang “Persit Bisa” di Balai Kartini, Jakarta, pada 7–9 Mei 2026.
Keikutsertaan ini bukan sekadar partisipasi, tetapi simbol perjalanan panjang dari dapur rumah menuju pasar yang lebih luas. Di sana, setiap produk membawa cerita tentang ketekunan, kreativitas, dan semangat untuk mandiri.
Bagi Persit Brawijaya, membangun ekonomi keluarga bukan lagi pilihan tambahan, melainkan bagian dari pengabdian. Sebuah langkah kecil yang, jika dilakukan bersama, mampu memberi dampak besar.