Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

‎Kisah Bakti TNI AD di Pulau Madura

Minggu, 23 Agustus 2026 | Agustus 23, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-23T18:13:06Z

 

Seorang warga mencuci wajahnya gunakan air bersih yang telah terpasang didepan rumahnya.


‎MADURA - Suara air yang jatuh dari sebuah keran mungkin terdengar biasa. Namun bagi sebagian warga di Pulau Madura, suara itu dapat menjadi penanda datangnya sebuah harapan. ‎

‎Seorang warga berusia 70an tahun menadahkan tangan di bawah aliran air. Tidak ada yang istimewa dari gerakan sederhana itu. Namun setelah sekian lama berhadapan dengan keterbatasan sumber air bersih, air yang mengalir dari keran memiliki arti yang jauh lebih dalam. ‎

‎Air berarti kebutuhan rumah tangga terpenuhi. Air berarti anak-anak dapat mandi dengan lebih mudah. Air berarti ibu tidak lagi terlalu jauh mencari air untuk memasak dan mencuci. Air berarti waktu dan tenaga yang selama ini terkuras dapat digunakan untuk kebutuhan lain. ‎

‎Bagi mereka, air bukan sekadar air. Air adalah kehidupan. Kisah itu menjadi bagian dari semangat Bakti TNI AD untuk Rakyat di Pulau Madura, melalui berbagai program yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. ‎

‎Salah satu yang paling nyata adalah TNI Manunggal Air, program unggulan Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) yang diarahkan untuk membantu masyarakat memperoleh akses air bersih. Di Pulau Madura, sebanyak 52 titik sumur bor dibangun untuk mendukung kebutuhan tersebut. ‎

‎Angka 52 mungkin terlihat sederhana dalam sebuah laporan kegiatan. Namun di balik angka itu terdapat masyarakat yang memiliki cerita, keluarga yang memiliki kebutuhan, serta anak-anak yang membutuhkan air untuk menjalani kehidupan sehari-hari. ‎

‎Mendapatkan air melalui sumur bor bukan pekerjaan yang sederhana. Prajurit bersama warga harus melakukan pengeboran, menembus lapisan tanah, mencari sumber air, dan proses itu tak mudah.  ‎

‎Mencari air ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Meter demi meter terus dilalui gunakan mesin. Pranurit TNI dan warga berharap di kedalaman sana ada sumber kehidupan. Namun perjuangan itu sempat terhenti. Mata bor patah di tengah perjalanan. ‎

‎Bukan hanya besi yang patah, tetapi seolah menjadi ujian bagi mereka yang sedang berjuang menghadirkan air untuk masyarakat. Namun mereka tidak menyerah. ‎
Seorang warga paruh baya (kanan) ikut gotong royong bersama TNI menggali tanah dalam proses pipanisasi air bersih.

‎Mata bor diganti, pengeboran kembali dilanjutkan. Karena bagi prajurit TNI AD dan warga, yang sedang dicari bukan sekadar air, melainkan sebuah harapan, agar air mengalir ke rumah-rumah warga, agar anak-anak bisa menikmati air bersih.

‎Dengan tujuan, kehidupan di Pulau Madura menjadi lebih baik.
‎Setelah sumber air ditemukan, pekerjaan berlanjut dengan pembangunan tempat penampungan dan jaringan pipanisasi. Air tidak cukup hanya ditemukan. Air harus dapat dialirkan dan digunakan. ‎

‎Pada akhirnya, seluruh proses tersebut bermuara pada satu hal yang sangat sederhana, disaat keran dibuka dan air mengalir dengan lancar. Di situlah pekerjaan teknis berubah menjadi manfaat kemanusiaan. 

‎Air dapat digunakan untuk memasak, mandi, mencuci, dan memenuhi berbagai kebutuhan keluarga. Bagi warga yang sebelumnya harus menempuh jarak tertentu untuk memperoleh air, kehadiran sumber air yang lebih dekat berarti berkurangnya beban kehidupan sehari-hari. ‎

‎Di Kecamatan Jrengik, Kabupaten Sampang, Abdul Aziz, salah seorang warga, memahami betul arti air bagi kehidupan masyarakat. Ia tak melihat sumur bor hanya sebagai bangunan, melainkan dari sisi kebutuhan keluarga dan kehidupan sehari-hari.‎

‎“Kalau air sudah mengalir, yang terasa bukan hanya mendapatkan air. Beban masyarakat juga menjadi lebih ringan. Kami tentu berterima kasih karena kebutuhan dasar seperti ini sangat berarti bagi warga,” ujar Abdul Aziz, Senin (10/08/2026).‎
Aksi keroik seorang prajurit rela masuk dalam lobang parit untuk menembuskan jalur pipanisasi dalam proses air bersih.

‎Pernyataan itu terdengar sederhana. Namun di baliknya terdapat pengalaman masyarakat yang selama ini harus berhadapan dengan keterbatasan air.‎

‎Sebab, bagi keluarga yang kesulitan mendapatkan air, setiap jerigen memiliki cerita. Ada tenaga yang dikeluarkan, ada waktu yang digunakan, dan ada kebutuhan lain yang harus ditinggalkan sementara.‎

‎M. Rofiq, salah satu warga Sumenep, mengaku manfaat sumur bor tidak hanya dirasakan oleh satu atau dua keluarga. Ketika sumber air dapat dimanfaatkan bersama, masyarakat menjadi lebih mudah dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, mulai dari kebutuhan rumah tangga hingga berbagai kegiatan sosial di lingkungan sekitar.‎

‎“Ini bukan hanya soal membuat sumur. Bagi kami, ini adalah bentuk perhatian kepada rakyat. TNI datang dan bekerja bersama masyarakat, sehingga manfaatnya benar-benar bisa dirasakan,” kata M. Rofiq, Jumat (14/08/2026).‎

‎Menurutnya, kehadiran TNI di tengah masyarakat juga memberikan semangat tersendiri. Prajurit tidak hanya datang membawa program pembangunan, tetapi turut melihat dan memahami kebutuhan warga secara langsung.‎

‎“Yang kami rasakan, TNI bukan hanya membantu dengan tenaga, tetapi juga hadir bersama masyarakat. Itu yang membuat kami merasa diperhatikan,” tuturnya.‎

‎Dan terkadang, perubahan kecil seperti itulah yang paling dirasakan manusia dari Kabupaten Bangkalan hingga Sumenep, persoalan air menjadi bagian dari kehidupan manusia.‎

‎Terlepas dari Air, pembangunan fisik lainnya juga dikerjakan dalam Bakti TNI untuk Rakyat di Pulau Madura seperti pembangunan 33 Jembatan dibangun untuk membantu membuka dan memperlancar akses masyarakat.‎
Jembatan Garuda di Desa Kara yang telah selesai dikerjakan.

‎Jembatan Garuda itu menjadi cermin rantai kehidupan dunia melancarkan akses pendidikan, ketahanan pangan, kesehatan, dan lannya.‎

‎Bagi seorang petani, jembatan dapat memudahkan membawa hasil pertanian. Bagi pedagang, jembatan dapat memperlancar mobilitas. Bagi anak-anak, jembatan dapat menjadi bagian dari perjalanan mereka menuju sekolah.‎

‎"Sangat bagus program Presiden Prabowo Subianto, sangat menyentuh terhadap warga.Kalau tidak ada sentuhan Bapak Presiden, mungkin kami tidak punya jembatan," ungkap Zainal Abidin warga Desa Kara, Rabu (19/08/2026).‎

‎Ia mengakui warga tidak tau, mau kemana sampaikan aspirasi, sama sekali bingung mau mengadu kemana. Dan ia bersyukur ada Bintara Pembina Desa (Babinsa) yang menjadi sandaran warga untuk memberikan keluhan.‎

‎"Cuma kita berikan laporan ke Bapak Babinsa, ternyata ditinjau langsung, ada pembangunan, dan kata Pak Babinsa ini pembangunan dari Presiden, maka warga sangat bangga, bersyukur ada pembangunan jembatan," imbuhnya.‎

‎Komandan Korem 084/Bhaskara Jaya Brigjen TNI Kohir menegaskan bahwa kehadiran TNI di tengah masyarakat harus memberikan manfaat yang benar-benar dapat dirasakan.‎

‎“Bakti TNI bukan hanya tentang membangun fasilitas, tetapi bagaimana kehadiran TNI benar-benar memberikan manfaat dan menjawab kebutuhan masyarakat,” ujar Brigjen TNI Kohir, Sabtu (22/08/2026).‎

‎Sekedar diketahui, pembangunan fisik lainnya di Bakti TNI AD untuk Rakyat di Pulau Madura, sesuai data yang media ini rangkum, masing-masing 400 titik Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu), rehab sekolah, rehab rumah ibadah. ‎

‎Dari sisi kemanusiaan, TNI AD juga hadir, mulai dari bantuan kaki palsu bagi warga yang membutuhkan, operasi katarak, khitanan masal, pengobatan gratis, donor darah dan berbagai aksi kemanusiaan lainnya, yang sangat dirasakan masyarakat.



×
Berita Terbaru Update