Jakarta - Pemerintah terus mencermati dinamika global yang ditandai meningkatnya ketegangan geopolitik dan volatilitas pasar keuangan dunia. Meski demikian, fundamental ekonomi Indonesia dipastikan tetap kuat dan resilien berkat koordinasi kebijakan yang solid serta daya tahan ekonomi domestik.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, menyampaikan bahwa pemerintah menghormati berbagai pandangan masyarakat sebagai bagian dari masukan dalam perumusan kebijakan.
"Kondisi ekonomi nasional saat ini masih berada dalam posisi yang stabil," kata Haryo dalam rilis persnya, Kamis (26/03/2026).
Stabilitas makro ekonomi, lanjutnya, tetap terjaga dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 mencapai 5,11% (yoy), serta inflasi yang terkendali dalam kisaran target 2,5±1%.
"Pemerintah terus menjaga kondisi tersebut melalui kebijakan pengendalian inflasi dan stabilisasi harga," ujarnya.
Dikatakan Haryo, dari sisi domestik, konsumsi masyarakat masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi, didukung stimulus fiskal dan bantuan sosial.
"Sektor manufaktur menunjukkan kinerja positif dengan PMI sebesar 53,8 yang berada pada fase ekspansi tertinggi dalam dua tahun terakhir," imbuhnya.
Ketahanan fiskal juga terjaga dengan kinerja APBN yang solid. Hingga Februari 2026, penerimaan pajak tumbuh 30,4% (yoy), didorong reformasi perpajakan dan digitalisasi melalui sistem coretax untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak.
Pemerintah juga mencatat penguatan pada sektor pangan dan energi, termasuk swasembada beberapa komoditas serta surplus energi melalui program biodiesel.
Ke depannya, Pemerintah optimistis ekonomi Indonesia dapat tumbuh sekitar 5,4% pada 2026 dengan kebijakan adaptif dan reformasi struktural yang berkelanjutan. (Redaksi/Ith)