SENTANI – Ondofolo Kampung Sereh, Yanto Eluay, meminta masyarakat menghentikan aktivitas pembukaan lahan baru di kaki hingga badan Gunung Cycloop dan sekitar kawasan Cagar Alam Cycloop.
Larangan tersebut disampaikan Yanto sebagai langkah pencegahan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah kondisi kemarau panjang yang membuat kawasan hutan dan lahan semakin kering.
Yanto mengatakan, aktivitas pembukaan lahan baru mulai terlihat semakin mendekati kawasan Gunung Cycloop. Kondisi ini dinilai berisiko karena pembukaan lahan umumnya dilakukan dengan cara menebang atau membabat vegetasi yang kemudian dibakar.
“Jangan melakukan pembukaan lahan-lahan baru dalam perkebunan, khususnya di kaki Gunung Cycloop, baik di badan Gunung Cycloop maupun di sekitar kawasan Cagar Alam Gunung Cycloop,” kata Yanto di Sentani, Senin (7/9/2026).
Menurutnya, kemarau panjang membuat masyarakat yang sebelumnya berkebun di kawasan yang lebih rendah mulai mencari lokasi yang dianggap lebih lembap untuk menanam.
“Mereka mencari tempat-tempat yang lebih lembap untuk berkebun. Karena panas, mereka mulai mendekati badan Gunung Cycloop untuk membuka lahan baru, perkebunan baru, karena tempatnya lebih lembap dan berharap tanaman mereka subur,” ujarnya.
Yanto mengingatkan, aktivitas tersebut harus segera dihentikan sebelum menimbulkan dampak yang lebih besar. Terlebih, kondisi lahan yang kering membuat pembakaran untuk membuka lahan sangat berpotensi memicu api merembet ke kawasan hutan.
“Setelah membabat mereka akan bakar. Saya kira akhirnya api akan merembes. Dengan kekeringan ini, api akan cepat menyebar ke mana-mana. Kemungkinan akan terjadi kebakaran di badan Gunung Cycloop,” tegasnya.
Jaga Cycloop sebagai Sumber Air
Yanto menegaskan, perlindungan Gunung Cycloop bukan hanya berkaitan dengan pencegahan karhutla, tetapi juga menyangkut keberlangsungan sumber air yang selama ini dimanfaatkan masyarakat.
Ia mengatakan, pepohonan dan vegetasi di kawasan hutan Cycloop memiliki fungsi penting dalam menjaga sumber-sumber mata air. Karena itu, kerusakan hutan akibat pembukaan lahan maupun kebakaran dikhawatirkan berdampak pada penurunan debit air dan memicu krisis air bersih.
“Kalau terjadi kebakaran dan tanaman serta pohon-pohon di situ berkurang, saya kira akan berdampak pada kekurangan air bersih, menurunnya debit air,” katanya.
Karena itu, Yanto meminta pemerintah segera turun ke lapangan untuk memastikan tidak ada aktivitas pembukaan lahan baru di kawasan Cycloop.
Ia juga mendorong pemerintah berkolaborasi dengan TNI-Polri, masyarakat adat, organisasi lingkungan dan seluruh elemen masyarakat untuk melakukan pengawasan serta pencegahan.
“Pemerintah, TNI-Polri dan masyarakat harus datang langsung untuk mencegah. Jangan ada aktivitas masyarakat di kawasan Gunung Cycloop, baik di kaki Gunung Cycloop maupun di badan Gunung Cycloop,” ujarnya.
Menurut Yanto, langkah pencegahan harus dilakukan sekarang dan tidak menunggu sampai kebakaran terjadi.
“Selama ini kita selalu bicara tentang mitigasi bencana, Gunung Cycloop harus dijaga karena bencana banjir bandang. Hari ini dengan musim kemarau yang panjang, bencana lain juga sedang akan terjadi, yaitu kebakaran,” katanya.
Ia kembali menegaskan pentingnya menghentikan pembukaan lahan baru sebagai upaya menjaga kelestarian hutan sekaligus mencegah karhutla dan krisis air bersih.
“Saya pertegas kepada pemerintah, sebelum terjadi, mari kita sama-sama melakukan langkah-langkah pencegahan agar karhutla dan krisis air bersih ini tidak terjadi bagi kita,” pungkas Yanto Eluay.