SENTANI – Sejumlah tokoh adat di wilayah Tabi, Kabupaten Jayapura, mengecam keras penembakan yang dilakukan KKB terhadap rombongan pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya di Distrik Muliama yang menewaskan tiga Aparatur Sipil Negara (ASN), Rabu (9/9/2026).
Tokoh adat Tabi menegaskan bahwa masyarakat sipil tidak boleh dijadikan sasaran kekerasan dalam situasi apa pun. Mereka meminta kelompok yang mengatasnamakan perjuangan agar mengedepankan cara-cara yang beradab dan tidak mengorbankan kehidupan manusia.
Kecaman tersebut disampaikan Ondofolo Kampung Puay, Yakob Fiobetau; Ondofolo Hedam Dasim Kleubeuw, Harly Ohei, S.H.; serta Ondofolo Kampung Sereh, Yanto Eluay, saat diwawancarai di Sentani, Jumat (11/9/2026).
Yanto Eluay menegaskan, masyarakat sipil yang menjalankan pekerjaan dan pelayanan kepada masyarakat tidak seharusnya menjadi korban dari konflik maupun kepentingan kelompok tertentu.
“Kalau berjuang, berjuanglah yang beradab. Jangan masyarakat sipil selalu menjadi korban,” tegas Yanto.
Menurutnya, tiga ASN yang menjadi korban merupakan bagian dari masyarakat yang sehari-hari hidup dan bekerja untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat di wilayah tersebut.
“Masyarakat yang menjadi korban ini adalah masyarakat yang hidup dan berbaur dengan kehidupan kita setiap hari. Mereka bekerja di sana untuk kemanusiaan dan membantu mengembangkan kehidupan masyarakat di daerah Puncak,” katanya.
Ia menegaskan, siapa pun yang menjadi korban kekerasan tetap memiliki hak hidup yang harus dihormati.
Yakob: Jangan Coreng Nama Papua
Sementara itu, Ondofolo Kampung Puay, Yakob Fiobetau, mengutuk keras penembakan tersebut. Ia mengatakan para ASN yang bertugas di Papua telah meninggalkan keluarga dan kampung halaman untuk menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat.
Menurut Yakob, sebagian pegawai bahkan berasal dari luar Papua, termasuk Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Toraja.
“Sebagai tokoh adat, saya mengutuk keras peristiwa tersebut. Ini sangat mengganggu pelayanan dan pekerjaan aparat sipil negara,” ujarnya.
Ia menilai tindakan kekerasan terhadap para ASN juga mencoreng citra Papua yang selama ini dikenal sebagai tanah damai dan tanah Injil.
“Peristiwa ini sangat mencoreng nama baik orang Papua pada umumnya. Papua dikenal sebagai tanah damai, tanah Injil, bukan tanah yang mengakui dan membenarkan perbuatan seperti ini,” katanya.
Harly Ohei: Masyarakat Sipil Harus Dilindungi
Ondofolo Hedam Dasim Kleubeuw, Harly Ohei, S.H., turut menyampaikan belasungkawa kepada keluarga ketiga korban sekaligus mengecam tindakan kekerasan tersebut.
Harly menilai tindakan brutal yang mengabaikan nilai kemanusiaan tidak boleh dibiarkan.
“Kejadian-kejadian yang tidak berpeduli pada kemanusiaan, tidak ada rasa kemanusiaan dalam melakukan tindakan brutal seperti ini, sangat kami sayangkan,” tegas Harly.
Ia meminta siapa pun yang terlibat dalam penembakan tersebut mempertanggungjawabkan perbuatannya melalui proses hukum.
Harly juga mengingatkan kelompok yang masih berseberangan dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) agar tidak melakukan tindakan yang justru merusak citra masyarakat Papua.
“Kami berharap saudara-saudara kita yang masih berseberangan dengan NKRI, apakah mereka betul-betul sebagai OPM atau hanya pelaku kriminal yang menggunakan senjata api, kami harap menjaga hal-hal yang justru menjadi penilaian buruk atau mencederai orang Papua secara keseluruhan,” ujarnya.
Desak TNI-Polri Ungkap Pelaku
Para tokoh adat Tabi juga mendesak aparat keamanan segera mengungkap kasus tersebut dan menangkap para pelaku untuk diproses sesuai hukum yang berlaku.
Yanto mengatakan tindakan tegas diperlukan agar masyarakat tidak terus dihantui rasa takut.
“Kami para tokoh di sini mengutuk keras perbuatan tersebut. Kami minta TNI dan Polri segera bertindak tegas terhadap siapa saja pelakunya,” kata Yanto.
Ia berharap aparat negara dapat memberikan jaminan keamanan bagi masyarakat, khususnya warga sipil dan ASN yang menjalankan tugas pelayanan.
“Oleh sebab itu kami minta dilakukan tindakan hukum yang tegas dari aparat negara, dari Polri maupun TNI, untuk menindak para pelaku seperti ini,” ujarnya.
Tokoh Adat Tabi Serukan Papua Tetap Damai
Para tokoh adat Tabi juga menyerukan agar masyarakat di wilayah Lapago dan seluruh Papua bersama-sama menjaga keamanan dan kedamaian.
“Kepada seluruh masyarakat di wilayah Lapago, di mana banyak sekali kejadian-kejadian terjadi, kami harap untuk sama-sama berkomitmen seperti kami untuk menciptakan Papua yang aman dan damai,” katanya.
Menurut Yanto, pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat tidak akan berjalan maksimal apabila keamanan dan kedamaian tidak terjaga.
“Kami ingin Papua ini aman, damai. Papua bisa berkembang maju, pembangunan rakyat bisa sejahtera. Kemajuan satu daerah dan kesejahteraan masyarakat ditentukan oleh keamanan dan kedamaian,” tegasnya.
Ia menegaskan masyarakat adat di Sentani telah berkomitmen menjadikan Kabupaten Jayapura sebagai rumah bersama bagi seluruh masyarakat.
“Kami tokoh-tokoh adat di Sentani sudah menjadikan Sentani dan Kabupaten Jayapura sebagai rumah bersama. Siapa pun boleh datang menikmati hidup yang aman di Tanah Tabi,” ujarnya.
Yanto mengajak seluruh masyarakat Papua menjaga persatuan serta meninggalkan tindakan yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan.
“Di mana pun kita berada, mari kita jaga kesatuan dan persatuan seluruh orang Papua. Mari kita tinggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai dengan peri kemanusiaan,” ajaknya.
Para tokoh adat Tabi juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga ketiga korban yang dinilai telah mengabdikan diri dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat Papua.
“Kepada ketiga korban dan keluarga besar mereka, kami atas nama masyarakat adat menyampaikan turut berdukacita dan belasungkawa yang tinggi karena mereka sudah mengabdi di sini, membantu orang Papua, bekerja sebagai pegawai negeri sipil dan melayani rakyat,” pungkasnya.